Showing posts with label motivation. Show all posts
Showing posts with label motivation. Show all posts

Saturday, November 22, 2008

The Optimist Creed

I promise myself......,


To be strong that nothing can disturb my peace of mind

To talk health, happiness and properity to every person I meet

To make all my friends feel that there is something in them

To look at the sunny side of everything and make my optimism come true

To think only of the best, to work only for the best, and expect only the best

To be just as enthusiastic about the success of others as I am about my own

To forget the mistakes of the past and press on to greater achievement of the future

To wear a cheerful coutenance at all time and give every person I meet a smile

To give so much time to the improvement of myself that I have no time to criticizes others

To be too large to worry, too noble to anger, too strong to fear and too happy to permit the presence of trouble.....




it's for life, not for school that we learn...!

Saturday, August 09, 2008

I asked for strength...and I was given difficulties...to make me strong,

I asked for wisdom...and I was given problems...to solve,

I asked for prosperity...and I was given a brain and brawn...to work,

I asked for courage...and I was given obstacles...to overcome,

I asked for Love...and I was given troubled people...to help,

I asked for favor...and I was given opportunities...,

I received nothing I wanted,

But...,

I received everything I need...!



.: it's for life, not for school that we learn...! :.

Tuesday, April 08, 2008

pernahkah kamu merasa bosan??

Pada awalnya manusialah yangmenciptakan kebiasaan. Namun lama kelamaan, kebiasaanlah yang menentukan tingkah laku manusia.Ada seorang yang hidupnya amat miskin. Namun walaupun ia miskin ia tetap rajin membaca.Suatu hari secara tak sengaja ia membaca sebuah buku kuno. Buku itumengatakan bahawa di sebuah pantai tertentu ada sebuah batu yang hidup,yang boleh mengubah benda apa saja menjadi emas. Setelah mempelajari isi buku itu dan memahami seluk-beluk batu tersebut,dia pun berangkat menuju pantai yang disebutkan dalam buku kuno itu. Dikatakan dalam buku itu bahawa batu ajaib itu agak hangat bila dipegang, seperti halnya apabila kita menyentuh makhluk hidup lainnya. Setiap hari pemuda itu memungut batu, merasakan suhu batu tersebut lalu membuangnya ke laut jika batu dalam genggamannya itu dingin saja. Satu batu, dua batu, tiga batu dipungutnya dan dilemparkannya kembali ke dalam laut. Satu hari, dua hari, satu minggu,setahun ia berada di pantai itu.Kini menggenggam dan membuang batu telah menjadi kebiasaannya.




Suatu hari secara tak sedar, batu yangdicari itu tergenggam dalam tangannya. Namun kerana dia telah terbiasa membuang batu ke laut, maka batu ajaib itu pun terbang ke laut dalam.Lelaki miskin itumeneruskan ‘permainannya’ memungut dan membuang batu. Ia kini lupa apa yang sedang dicarinya. MORAL KISAH INI: Sahabat, pernahkah kita merasakan kalau hidup ini hanyalah suatu rutin yang membosankan? Dari kecil, kita sebenarnya sudah dapat merasakannya, kita harus bangun pagi-pagi untuk bersekolah, lalu pada siangnya kita pulang, mungkin sambil melakukan aktiviti lainnya, seperti belajar, menonton TV, tidur, lalu pada malamnya makan malam, kemudian tidur, keesokkan harinya kita kembali bangun pagi untuk bersekolah, dan melakukan aktiviti seperti hari kelmarin, hal itu berulang kali kita lakukanbertahun-tahun !!Hingga akhirnya tiba saatnya untuk kita bekerja, tak jauh bezanya dengan bersekolah, kita harus bangun pagi-pagi untuk berangkat ke pejabat, lalu pulang pada petang/malam harinya, kemudian kita tidur, keesokan harinya kita harus kembali bekerja lagi, dan melakukan aktiviti yang sama seperti kelmarin, sampai bila? Pernahkah kita merasa bosan dengan aktiviti hidup kita? Kalau ada di antara teman-temanku ada yang merasakan demikian, dengarkanlah nasihatku ini :“Bila hidup ini cuma suatu rutin yang membosankan, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk menemukan suatu nilai baru di sebalik setiap peristiwa kehidupan.” Ertinya, jangan melihat aktiviti yang kita lakukan ini sebagai suatu kebiasaan atau rutin , kerana jika kita menganggap demikian, maka aktiviti kita akan amat sangat membosankan !! Cubalah mengerti setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita, mungkin kita akan menemukan suatu yang baru, sesuatu yang belum pernah kita ketahui sebelumnya, “Setiap hari merupakan hadiah baru yang menyimpan sejuta erti.”

Tuesday, July 31, 2007

berhenti menjadi gelas

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnyabelakangan ini selalu tampak murung."Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah didunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? " sang Guru bertanya."Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuktersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, " jawab sangmurid muda.Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu."Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaangurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimanayang diminta."Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kataSang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit."Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum airasin."Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru."Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masihmeringis.Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringiskeasinan."Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekattempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau."Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpabicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasaasin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludahdi hadapan mursyid, begitu pikirnya."Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambilmencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggirdanau.Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, danmembawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingindan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanyakepadanya, "Bagaimana rasanya?""Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya denganpunggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumberair di atas sana . Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yangtersisa di mulutnya."Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?""Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air danmeminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya,membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas."Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalahdalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang haruskau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuaiuntuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurangdan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pundemikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yangbebas dari penderitaan dan masalah."Si murid terdiam, mendengarkan."Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangattergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak,supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau."