Tuesday, July 31, 2007

berhenti menjadi gelas

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnyabelakangan ini selalu tampak murung."Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah didunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? " sang Guru bertanya."Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuktersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, " jawab sangmurid muda.Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu."Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaangurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimanayang diminta."Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kataSang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit."Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum airasin."Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru."Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masihmeringis.Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringiskeasinan."Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekattempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau."Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpabicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasaasin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludahdi hadapan mursyid, begitu pikirnya."Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambilmencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggirdanau.Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, danmembawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingindan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanyakepadanya, "Bagaimana rasanya?""Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya denganpunggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumberair di atas sana . Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yangtersisa di mulutnya."Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?""Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air danmeminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya,membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas."Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalahdalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang haruskau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuaiuntuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurangdan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pundemikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yangbebas dari penderitaan dan masalah."Si murid terdiam, mendengarkan."Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangattergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak,supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau."

Saturday, January 27, 2007

acknowledgment

at last i'm finish with my thesis writing and hopefully next tuesday(final test for thesis) will be ok and excell. here, i want to magnify my gratitude for those who really with tireless help me during this thesis is conducted.


First of all, I would like to send my greatest gratitude to ALLAH S.W.T for giving me the opportunity in doing my research and finishing this thesis. Hopefully, His blessings and guidance will always be with me. Salawatuwassalam to Nabi Muhammad S.A.W., families and shalafus solih.

I am greatly indebted to many people for generous help and criticism. In particular they are deeply grateful to my parents and family whose constant encouragement and advice have been invaluable.

Many deserve thanks for contribution to the preparation of this research.

  1. dra. Erna Kristin, Msi, Apt as my Thesis Content Advisor, Dr. Iwan Dwiprahasto, MmedSc,PhD as my Methodology Advisor and dr. Jarir At Thobarri, Dipl. Pharm.,PhD, as my Expert Examiner – have lent their considerable energy and expertise.
  2. All the Pharmacology Department staffs of Faculty of Medicine, Gadjah Mada University Yogyakarta especially Mbak Tari and Mas Kris for the guidance, helps and moral support when I faced the technical difficulties during my research.
  3. My dearest research colleague Nur Amalina Binti Abdul Razak, Renuka a/p Murugesu, and Delini Devi a/p Ramadras who will, no doubt to their keen and cooperation.
  4. I am grateful to my dear friends, Darlina, Diana Shahida, Juliza Ashram, Nur Zati Bayani, Efna, Nur Suriati, Hazlin Azzamiza, Alia Nazirah, Irda Yuhanis, Nik Rozlin Elini, Nor Huda, Wan Immi and Nor Sa’adah whose support and forbearance are gifts beyond reckoning.
  5. I also expressed my appreciation to Mohd. Syis for the SPSS matters and other classmates for the cooperation and inspiration.
  6. Lastly, but not least, I would like to pay tribute to all the International Programme Staffs of Faculty of Medicine, Gadjah Mada University Yogyakarta, Mbak Qiqi, Mbak Prita, Mbak Tiya, Mbak Yus, Mbak Ita, Mbak Ifa, Mbak Dewi, Mas Rohman, Mas Muji, Mas Toro and Mas Anto for the helps, guidance and supports.

I would like to apologize for all mistakes I have done in conducting this study. Hopefully, this study can inspire and give meaningful contribution especially in prescribing appropriate drugs in daily practices.

Yogyakarta, 22nd January 2007

Nur Hafidah Binti Ishak

03/168774/KU/10817

Monday, January 08, 2007

sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan

blogging is sumthing that can releive my tension(at least)...perhaps it also give benefits to reader as well.
regarding last blog.....pas dah penat rase tension n tertekan tiba-tiba teringat satu bingkisan....

Peringatan Allah S.W.T kepada Nabi Muhammad S.A.W. agar terus berjuang dengan ikhlas dan tawakal

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?
Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu
Yang memberatkan pundakmu
Dan Kami tinggikan bagimu sebutan namamu
Kerana sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan

Maka apabila kamu telah selesai daripada suatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain
Dan hanya kepada Tuhanmu lah hendaknya kamu berharap

Alam Nasyrah, 94:1-8


Thursday, January 04, 2007

time management

mega event in new year.....

::block 22(huhu....very tough n heavy block....cannot rest at all...wut to do nk jd a competent doctor ..hehehe.cam poyo laks)

::block 12 remediation(tu laa sape suruh x stdy betol2 last time...but i really like cardio n resp....tah nape tah exam terok...>sedey2...)

::research findings seminar(wargh.....bencinye dgr, tgk, tulih word tesis....tertekanlaa.depress.hope to present next week..insyaAllah...)

::PPBKK(eh betol ke tu)....lg tension...

::E1.....ultimate nyer tension....takut...gabra....sume ade laa....boleh ke pass....



Sunday, August 27, 2006

monolog nurani.....

apa yang kuidam, itulah kepekaan batin, kelembutan perasaan, rasa takut terus menerus, selalu waspada dan hati-hati jangan sampai terkena duri di jalanan... Jalan kehidupan yang selalu ditaburi duri-duri godaan dan syahwat, kerakusan dan angan-angan, kekhuatiran dan keraguan, harapan semu dan sia-sia atas segala sesuatu yang tidak bisa diharapkan. Ketakutan palsu dari sesuatu yang tak pantas ditakuti... Dan masih banyak duri-duri yang lainnya... Disitulah taqwa perlu hadir...sebati mendarah daging dalam diriku yang daif ini.

hati-hati wahai jiwaku, jangan engkau ingkar setelah beriman, jangan tersesat setelah engkau mendapat petunjuk, janganlah engkau menjadi fasiq setelah beriltizam(komitmen)...
Barangsiapa melanggar perjanjian maka akibatnya akan menimpa dirinya, ba rangsiapa tersesat maka kesesatannya itu akan menimpanya.

DESTINY is not a matter of chance,
it is a matter of choice,
it is not a matter of waited for,
it is a thing to achieved.

Friday, July 07, 2006

something....

Membaca teks soal jawab dengan Ali Bukahri Amir mengenai perbezaan intelek dan pemikir melempar saya ke kondisi dan budaya golongan berilmu era ini. Saya katakan era ini kerana sejajar dengan kata ‘era’ dalam konteks era globalisasi. Dalam era inilah pelbagai terminology pening muncul dan kerana banyaknya pemutar-pemutar alam, fakta-fakta penting dan benar boleh dimanipulasikan dan andaikata kita tertipu, bahaya sedang menanti kita di hadapan.

Semua pemikir adalah intelektual tapi tak semua intelektual adalah pemikir. Memikirkan apa? Apakah memikirkan hal-hal sepele dikatakan pemikir? Atau apakah memikirkan hal-hal negara didefinisikan pemikir?
Selagi hal yang difikirkan adalah untuk kemaslahatan umat, tak kira sekecil manapun ia wajarlah satu penghormatan diletakkan pada para pemikir ini. Selagi fikiran mereka yang menjurus kepada pembangunan minda, rohani dan jasmani umat dan tentunya berladaskan Al-Quran dan As-Sunnah selagi itu tittle intelektual ulung melekat ternobat pada mereka dan bukanlah untuk tujuan komersial atau popularity.

Adapun di kalangan orang banyak, walaupun ilmunya penuh di dada belum tentu ia mampu dan mahu menggunakannya untuk tujuan pembangunan ummah. Mungkin definisi pembangunan perlu ditekankan kerana apa yang penting dalam kemajuan manusia abad ini bukanlah semata-mata kemajuan material namun turut memerlukan usaha dan kerja keras dalam mendaulatkan pembangunan dan kemajuan minda dan rohani ummah. Ini amatlah sedikit dititikberatkan kerana hasil dakyah sesat, definisi kemajuan manusia abad ini dikecilkan skopnya ke arah pembangunan teknologi dan sains semata. Kemanakah dilontarkan ketulusan hati dan ketinggian akal budi? Bukankah suatu masa lalu kerana tingginya peradaban kita, ilmu pengetahuan dan kuasa kepimpinan dipelopori oleh kita?

Mungkin kita terlupa kesimpulan dari salah satu perang terbesar di dunia iaitu kekuatan kita adalah jika diserang secara fizik. Sebanyak manapun bilangan bala tentera lawan kerana niat jihad fi sabilillah itu kita bisa menongkah dunia. Bisa memenangi setiap perang. Tapi kerana kemenangan itu jugalah pihak musuh menukar strategi perang kepada perang saraf. Satu bentuk perang baru yang memamah dan menghancurkan Islam sedikit demi sedikit. Dengan cara paling halus dan penuh tipu muslihat. Dan hasilnya sangat-sangat membanggakan golongan sesat itu.

Namun, apakah yang sedang kita lakukan sekarang. Untuk menandingi mereka secara material, teknologi dan kekuasaan jelas-jelas kita tertinggal di belakang. Tetapi, adakah kita ingin terus-menerus dijajah secara minda lagi. Biarlah tidak gah dari jumlah senjata dan angakatan tentera tapi sekurang-kurangnya janganlah kalah dari segi semangat jihad fi sabilillah. Hanya itu senjata kita dan ia telah terbukti berkesan dan amat digeruni. Namun komplikasi dari perang saraf itu sendiri terlihat jelas di mana semangat jihad semakin cair dalam jiwa dan diganti dengan kecintaan terhadap dunia yang terlalu berlebihan. Benarlah kata-kata bahawa umat Islam akhir zaman nanti semakin terkebelakang dan dimanipulasi oleh umat agama lain kerana semakin takut mati dan tingginya cinta terhadap dunia.

Rentetan dari kekalahan golongan sesat itulah maka dakyah mereka semakin bercambah dari hari kehari. Dan kita pula terus terlena dengan kejayaan dan kemenangan sebelum ini hingga terlalai dan terkulai. Pelancaran 5S;sex,skrin,study,sports,sing yang nampak simple amat-amat menggigit dan menggugat kredibiliti ummat Islam kini. Kemunculan 5S ini amat-amat disedari oleh kita namun kita tak terasa dimamah olehnya lantaran halusnya dakyah ini. Dan kelangsungan dakyah ini sudah lama dan telah sebati dalam jiwa setiap kita dan saya percaya jika mana-mana usaha untuk membuang kebiasaan ini amatlah sulit walaupun di kalangan orang yang sedar sekalipun.

Namun, ini bukanlah bermakna kita berputus asa meregangkan 5S ini dari kehidupan sehari-hari tapi sebolehnya sedikit demi sedikit pengaruhnya mampu berkurang. Jihad yang boleh dan amat-amat sesuai dalam era yang telah diglobalisasikan ini adalah jihad mental. Kerana penyerang kita juga menggunakan kaedah ini untuk menjajah umat manusia. Hal ini dapatlah dicapai melalui perkembangan ilmu dan fikiran. Banyak buku-buku yang membahaskan kekalahan mental ummat zaman ini dan mungkin dengan studi-studi kita mampu mengorak arus kemodenan dengan kemajuan material dan juga nilai-nilai murni.

Dalam satu perbincangan di sebuah majlis ilmu isu jihad pernah dikemukakan. Terdapat pelbagai cabang dari jihad itu sendiri dan setiap individu memenuhi ruang masing-masing mengikut ilmu dan bidang upaya sendiri. Ada yang berjuang dan berjihad dengan mengangkat senjata, ada yang berjihad dari sudut ekonomi, social, politik dan tidak sedikit yang berjihad dengan ilmunya ditambah pula bidang ilmu itu sendiri multidisiplin. Sempat juga kami menyentuh isu bom berani mati dan pelbagai respond dapat ditemukan. Tidak sedikit yang kurang bersetuju dengan tindakan ini namun siapalah kita untuk menilai langkah dan niat mereka. Kita doakan semoga roh-roh umat Islam yang terkorban dalam bom berani mati itu meninggal dalam jihad dan sesunggunhnya kerana jihadlah mereka bertekad sedemikan kukuh. Dalam pada itu, usaha kita, orang-orang yang masih tinggal di dunia ini bukanlah berdiam diri, melainkan sentiasa mencari usaha dan akal untuk menyebarkan agama Allah. Dan saya lebih suka jika cara penyebaran itu bebas dan tidak stereotaip. Hal ini kerana hidayah itu bukanlah datang dengan satu cara sahaja melainkan banyak cara. Wallahualam.

Conclusion:

Jihad harus diawali dengan diri sendiri. Walaupun kedengaran mudah tapi jika jihad melawan nafsu sudah dikuasai, dengan mudah suatu anjakan paradigma berlaku. Kunci utama kekalahan ummat islam akhir zaman telah diberitakan dalam banyak buku iaitu kerana kuatnya cinta kita pada dunia dan kerana takutnya kita pada kematian. Jihad yang paling besar bukanlah berlawan di medan perang tetapi yang utama melawan dan menguasai nafsu melalui ilmu dan iman, insyaAllah.

Friday, June 30, 2006

khas buat pengantin baru; kak bad, kak nida dan kak ana...
semoga pernikahan itu mendapat keberkatan dan keredhaan Allah SWT..

ciNta luar biasa........

Cinta luar biasa..
Cinta seorang Kekasih kpd umatnya..
Hingga pd hembusan nafasnya yg terakhir..
Lidah Rasulullah menuturkan tanpa henti..
Ummati.. ummati.. ummati..

Cinta luar biasa..
Kisah cinta Handzalah..
Meninggalkan isteri di malam pernikahan..
Lantaran menyahut seruan jihad..
Akhirnya syahid di medan perjuangan..

Cinta luar biasa..
Seteguh kasih Khadijah..
Tak pernah jemu memberikan sokongan..
Rela mengorbankan segala kemewahan..
Di saat Rasulullah dan Islam dipinggirkan..

Cinta luar biasa..
Kisah kesetiaan Abu Bakar..
Kasih seorang sahabat yg tiada tandingan..
Insan yg sentiasa membenarkan..
Sewaktu kata-kata Rasulullah dipersendakan..

Cinta luar biasa..
Kisah ketabahan Hajar..
Ditinggalkan di tanah yg gersang bersama Ismail..
Bukti kasih seorang ibu yg berlarian mencari air..
Tatkala mendengar tangisan si anak kecil..

Cinta luar biasa..
Umpama keberanian Ali..
Di malam penghijrahan Nabi..
Menggantikan Rasulullah di tempat tidurnya..
Walaupun jiwa menjadi taruhan..

Cinta luar biasa..
Cinta Asiah, Masyitah dan Sumaiyyah..
Menggadaikan nyawa demi mempertahankan aqidah..
Iman di dada tak sedikit pun goyah..
Kerana keyakinan yg teguh atas segala janjiNya..

Kisah cinta luar biasa..
Insan pilihan yg berada di atas jalanNya..
Betapa tulusnya kasih, teguhnya jiwa..
Redha dan sabar menempuh segala ujian..
Merekalah insan yg memahami erti kemanisan iman..

Thursday, June 29, 2006

Tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh cinta.
Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh kasih-sayang.
Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan.
Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh ketekunan.
Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan oleh kesabaran.